.i wish i am special.

TrackBack23 December, 2005 1:54 pm

pernah sampe harus purapura kesedak di suatu acara perjamuan?
supaya orang lain tidak tau klo kamu lagi menangis?
pernah merasa udah keluar jauh bwanged dari path of your life?
atau.. you think, you dont have any choice anymore for your life?

how does it feel?

sakit ga?
menyesakkan ga?
klo udah gitu mo digimanain?

orangorang yang teriakin sesuatu yang bernama “solidaritas”
tapi giliran mo senangsenang dijalanin sendiri..
biasa yah klo kayak gitu zaman skarang?
-saya saja memiliki kemungkinan yang amad sangat besar menjadi orang seperti itu-

gimana siyh sakitnya senang di atas susah orang laen?
ato ga ada rasanya sama sekali?
hingga kita bisa dengan senang hati tetap ngejalaninnya?
thats so human, sangat manusiawi toh
sampe kapan kita mo berpegang ama dalih “manusiawi” itu?
sampe hari akhir tah?

lagian saya hanya nanya

karena saya harus purapura kesedak supaya tidak ketahuan klo nangis
karena saya merasa lagi membuat path baru bwat hidup saya,
dan sangat disayangkan path itu benerbener ga sesuai dengan apa yang ada di hati saya
dan itu berarti udah amad sangad jauh sekali. saat merasakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati.
saya merasa tidak diberi pilihan lain lagi selain menjalani apa yang sudah saya pilih sebelumnya

gimana rasanya?

sakit
sesak
klo udah gitu, saya hanya nangis

terisakisak
air mata ga ada yang keluar
gimana rasanya menangisi hidup sendiri?
perasaan apa yang dibawa?
it’s terrible

lagilagi mikirin pilihan
emang ada?
emang MASIH ada pilihan itu bwat saya? tersisa bwat saya?
selain menjalani? selain menerima smwanya?
MASIH ADA?????

would you give me one plis..
i beg you down on my knee..

or might be i’m too much of react?
i’m just dont like to be lonely
sendiri dengan pikiran saya
but i’m act, exactly like that. being alone.

wut am i thinking about?
dunno

-hehehe.. kata someone who means a lot to me : “kamu bangeeddd”- hope you’ll be patience..-

TrackBack1 December, 2005 7:18 am

pengorbanan. kita semua membuat pengorbanan. entah sebuah atopun berpuluh-puluh. ato bahkan mungkin kita menjadi orang yang penuh pengorbanan. maksudnya setiap saat mesti berkorban.
pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. harusnya begitu. bukan sesuatu untuk disesali. tapi sesuatu untuk didambakan. seberapa kecil ato seberapa besarpun itu. seperti seorang ibu yang bekerja keras agar anaknya bisa sekolah. ataupun seorang anak perempuan yang pindah rumah untuk merawat ayahnya yang sakit. kadang-kadang saat kita mengorbankan sesuatu yang berharga, kita tidak sungguh-sungguh kehilangan apa yang kita korbankan itu. kita hanya meneruskannya pada orang lain.

*hanya renungan singkat dari sebuah buku..

TrackBack28 November, 2005 7:29 am

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak dengan cepat, sehingga ia tidak mungkin ia bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?” Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup -jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya-

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

“Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu gelandangan yang membutuhkan. ”

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Mungkin memang pedih pada awalnya… mungkin butuh bulan berbilang tahun untuk menyeka bening yang terkadang masih mengalir…. Namun kebahagiaan memang tak selamanya… dan kesedihan takkan mengembalikan apa yang telah berlalu…

Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain. Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya.

“Semoga kita bisa menjadi orang yg ikhlas yang tetap masih bisa memberikan senyum terindah kita pada dunia”.

TrackBack24 November, 2005 9:29 am

ini, refleksi yang baru saya ketahui.
diberikan oleh seorang teman.
saya bertanya tentang doa. saya mengeluh kepada teman saya tentang doa. dan betapa DIA adalah sesuatu yang benar-benar suka memaksa. dengan caraNya sendiri tentunya..

moga-moga refleksi ini belum terlalu terlambat..

few days ago

“shalat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“hmm, dont ask me for do that now”
“i push”
“saya ga akan melakukan ibadah lantaran dipaksa, niat udah ada, tinggal laksanainnya. knapa begitu berat? lantaran saya lagi marah. maaf. dan ga sepantasnya saya marah ke DIA”
“…”
“tapi DIA udah mulai agak keterlaluan. entah saya atau DIA yang keterlaluan. you know wut i mean. yeah. i hope i’ll do those thing, As Soon As Possible”
“terserah DIA…wong dia yg punya semua”
“makanya toh. biar dia punya semua ….”
“tetep terserah DIA”
“saya nentang nentang dikit dia nya tetep keukeuh. makanya ga ada kata terserah wat saya selain harus”
“syukur kamu nyadar”
“DO sama sulitnya dengan THINK. tapi akan sulit trus klo cuman dipikirin n gak dilakuin. yeah. dunno”

perbincangan yang memeras otak di dunia maya, tidak berakhir memuaskan menurut saya. dilanjutkan dengan pesan-pesan singkat.

“menurut kamu, doa bisa salah? hmm, maksud saya, DIA bisa salah menjawab doa kita ato kita yang salah menafsirkan jawaban atas doa kita? can we save a regret for that?”

message sent +628134008xxxx

new message received

+628134008xxxx
“DIA bisa salah? yang benar menurutmu belum tentu benar menurut DIA”

hmm, jawaban singkat yang memang sudah saya ketahui sejak dulu. membuat saya enggan membalas smsnya lagi. tapi kenapa harus menjawab dengan absolutisme pula? adakah penjelasan lain. jangan salahkan saya yang begitu suka bertanya. meskipun pertanyaan itu udah saya ketahui jawabannya. saya hanya mengharapkan sesuatu yang lain. dengan jawaban teman saya kali ini, saya hanya terdiam. bagiku jawaban itu sudah final. gak usah dipanjang-panjangin lagi. saya sering menanyakan doa dan DIA. sesering itu pula saya mendapatkan jawaban yang sama.

belum puas dengan jawaban yang dia berikan, kali ini dia mengirimiku email.
(ternyata dia sendiri tidak puas dengan jawaban yang dia berikan ^_^)

Tanggal : 22-Nov-2005 19:53 Tue
Dari : dot@univerz
Subject : copy, paste, edit, print, read and think …. (the rest is yours)

Gunung Jangan Pula Meletus

Khusus untuk bencana Aceh saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping-keping, akan kubunuh.
“Jakarta jauh lebih pantas mendapatkan bencana itu dibanding Aceh!”, langsung aku menyerbu.
“Kamu juga tak kalah pantas untuk memperoleh kehancuran”, Sudrun menyambut dengan kata-kata yang, seperti biasanya, menyakitkan hati.
“Jadi kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”
“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkah dengan sorga”
“Orang Acehlah yang selama bertahun-tahun terakhir ini sangat dan paling menderita dibanding kita semua senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?” (more…)