ini, refleksi yang baru saya ketahui.
diberikan oleh seorang teman.
saya bertanya tentang doa. saya mengeluh kepada teman saya tentang doa. dan betapa DIA adalah sesuatu yang benar-benar suka memaksa. dengan caraNya sendiri tentunya..
moga-moga refleksi ini belum terlalu terlambat..
few days ago
“shalat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“hmm, dont ask me for do that now”
“i push”
“saya ga akan melakukan ibadah lantaran dipaksa, niat udah ada, tinggal laksanainnya. knapa begitu berat? lantaran saya lagi marah. maaf. dan ga sepantasnya saya marah ke DIA”
“…”
“tapi DIA udah mulai agak keterlaluan. entah saya atau DIA yang keterlaluan. you know wut i mean. yeah. i hope i’ll do those thing, As Soon As Possible”
“terserah DIA…wong dia yg punya semua”
“makanya toh. biar dia punya semua ….”
“tetep terserah DIA”
“saya nentang nentang dikit dia nya tetep keukeuh. makanya ga ada kata terserah wat saya selain harus”
“syukur kamu nyadar”
“DO sama sulitnya dengan THINK. tapi akan sulit trus klo cuman dipikirin n gak dilakuin. yeah. dunno”
perbincangan yang memeras otak di dunia maya, tidak berakhir memuaskan menurut saya. dilanjutkan dengan pesan-pesan singkat.
“menurut kamu, doa bisa salah? hmm, maksud saya, DIA bisa salah menjawab doa kita ato kita yang salah menafsirkan jawaban atas doa kita? can we save a regret for that?”
message sent +628134008xxxx
new message received
+628134008xxxx
“DIA bisa salah? yang benar menurutmu belum tentu benar menurut DIA”
hmm, jawaban singkat yang memang sudah saya ketahui sejak dulu. membuat saya enggan membalas smsnya lagi. tapi kenapa harus menjawab dengan absolutisme pula? adakah penjelasan lain. jangan salahkan saya yang begitu suka bertanya. meskipun pertanyaan itu udah saya ketahui jawabannya. saya hanya mengharapkan sesuatu yang lain. dengan jawaban teman saya kali ini, saya hanya terdiam. bagiku jawaban itu sudah final. gak usah dipanjang-panjangin lagi. saya sering menanyakan doa dan DIA. sesering itu pula saya mendapatkan jawaban yang sama.
belum puas dengan jawaban yang dia berikan, kali ini dia mengirimiku email.
(ternyata dia sendiri tidak puas dengan jawaban yang dia berikan ^_^)
Tanggal : 22-Nov-2005 19:53 Tue
Dari : dot@univerz
Subject : copy, paste, edit, print, read and think …. (the rest is yours)
Gunung Jangan Pula Meletus
Khusus untuk bencana Aceh saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping-keping, akan kubunuh.
“Jakarta jauh lebih pantas mendapatkan bencana itu dibanding Aceh!”, langsung aku menyerbu.
“Kamu juga tak kalah pantas untuk memperoleh kehancuran”, Sudrun menyambut dengan kata-kata yang, seperti biasanya, menyakitkan hati.
“Jadi kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”
“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkah dengan sorga”
“Orang Acehlah yang selama bertahun-tahun terakhir ini sangat dan paling menderita dibanding kita semua senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?” (more…)

