Pekerjaan yang paling mudah dilakukan adalah lupa. Tidak butuh kecerdasan. Tidak perlu pendidikan. Hanya perlu sedikit berpikir. Itulah sebabnya, banyak orang yang tidak suka kalender, jam dan tulisan. Menghambat lupa. Padahal lupa itu enak. Membebaskan. Sementara.
Musuh utama lupa ialah kapan. Teman terbaik lupa ialah kapan-kapan. Kapan dan kapan-kapan ternyata sering kompak juga.
sebuah fragmen tentang Lupa
Aku sedang melamun di ruang tamu.
Memperhatikan daun-daun dipetik hujan, disebarkan ke halaman.
Hampir petang. Kring kring. Ada becak datang.
Becak diparkir di depan pintu. Bang becak nyelonong masuk ke ruang tamu.
Duduk santai. Merookok. Hap!
Aku tergagap. Siapa dia? Aku merasa tidak pesan becak.
“Lupa ya??” Ia senyum-senyum. Aku bingung. Terpana.
“Lupa ya??” Ia bertanya lagi. Tersenyum lagi.
Tiba-tiba aku ingat bahwa aku memang pernah bertemu orang yang mirip dia.
Di suatu tempat, di suatu waktu. Entah dimana. Tapi bukan dia.
“Anda lupa ya bahwa Anda belum pernah bertemu saya?
Mengapa harus mengingat-ingat??”
“Ikut saya yuk! Gratis.” Ia mengajakku ke kota denagn becaknya.
Aku menolak. Kapan-kapan saja.
Ketika aku sibuk mengamati daun-daun dipetik hujan,
ia ngeloyor begitu saja dengan becaknya tanpa sempat kuperhatikan arahnya.
Aku kini merasa lega setiap kali melihat becak melintas di jalan atau di parkir di halaman. Karena suatu saat nanti, jika aku hendak pergi ke kota, akan ada bang becak yang menjemput dan mengantarku. Lumayan. Nyaman. Sederhana. Tidak tergesa-gesa.
Adakah yang benar-benar habis digerogoti lupa?
Lupa : matawaktu yang tidur sementara (more…)

